Banyak Kelompok Yang Menghadiri Banyuwangi Batik Ekspo

Pacu perkembangan industri batik tempat, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, gelar lomba desain motif batik. Acara ini, menjadi bagian dari rangkaian Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2015.


Uniknya, sehari sebelum acara puncak dihelat pada Jumat (9/10) besok, apalagi dahulu digelar Fashion on the Pedestrian. Peragaan pakaian di atas trotoar ini digelar di Taman Blambangan, sebuah taman hijau yang asri di kabupaten berjuluk Sunrise of Java tersebut.

Menggunakan panggung peragaan busana di area pejalan kaki ini akan diikuti 170 peserta asal Banyuwangi. Tidak cuma model profesional, mulai dari pelajar sampai Pegawai Negeri Sipil (PNS) bakal lenggak-lenggok di acara ini.

Menurut salah satu dewan juri desain motif batik, Masiswo menuturkan, lomba ini sudah dikerjakan secara konsisten Pemkab Banyuwangi sejak 2011 kemudian. Bahkan termasuk sukses memperbesar khasanah batik tempat, dari 22 motif batik bertambah menjadi 52 jenis motif.

Juri dari Balai Besar Kerajinan dan Batik, Kementerian Perindustrian Yogyakarta ini juga mengungkap, menciptakan rancangan motif batik baru ialah salah satu cara memicu pasar gres ataupun memperluas pasar yang sudah ada.

"Karena pasar terus berganti. Pasar batik juga bisa bosan apabila motif-motif yang tampil hanya motif lama. Maka mesti senantiasa ada kreativitas dalam industri batik mirip kontes motif batik gres ini," kata Masiswo ibarat rilis yang disampaikan Humas Pemkab Banyuwangi pada merdeka.com, Kamis (8/10).

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan Banyuwangi, Hary Cahyo Purnomo pertanda, para model itu sebelumnya telah melalui tahap seleksi.

"Meski aslinya para penerima ini tidak berprofesi selaku versi, mereka tetap mengikuti seleksi, mulai dari cara berlangsung bak peragawati hingga rancangan baju yang diajukan. Total ada sekitar 456 akseptor yang mengikuti audisi, tetapi yang lolos hanya 170-an saja," kata Hary.

Para model amatir ini, lanjut ia, akan berlenggak lenggok di atas trotoar sepanjang 350 meter. Mereka akan membawakan kategori busana menyerupai pakaian kasual yang hendak dibawakan penerima belum dewasa. Kemudian busana pesta dibawakan akseptor sampaumur, dan karyawan akan memperagakan pakaian kerja.

"Untuk memacu kreativitas peserta, kita beri mereka keleluasaan untuk menyediakan busananya sendiri. Mereka bisa mendesain sendiri atau eksklusif menggandeng salah satu IMK batik," terangnya lagi.

Hary menyertakan, selain untuk menawan perhatian turis, ajang fesyen batik di atas trotoar ini juga untuk lebih membumikan kekayaan batik di tengah penduduk . "Banyuwangi sekarang punya sekurang-kurangnya 52 motif batik. Dengan ajang ini, batik dapat menjadi pola hidup sehari-hari penduduk ," ucapnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas memberikan, selain ingin melibatkan pribadi penduduk dalam mempromosikan batik Banyuwangi dan menumbuhkan kecintaan pada fasyen batik lokal. Selain itu, even ini juga didesain istimewa untuk menawarkan bila trotoar dapat menjadi kawasan pentasyang kondusif, ramah dan tenteram.

"Kami ingin fungsi trotoar dikembalikan bagi kepentingan publik," kata Anas.

Anas melanjutkan, ajang ini sebagai upaya mendorong batik selaku komoditas fasyen yang bisa menggerakkan ekonomi setempat supaya terus digalakkan. "Pengembangan pariwisata memang sejalan dengan industri kreatif menyerupai batik. Dengan makin familiarnya batik Banyuwangi, perajin dan UMKM batik bisa tumbuh. Ini kerja-kerja jangka panjang," tandasnya.
LihatTutupKomentar