Batik Iwan Tirta Yang Bergaya Kurun Soekamto

Dewaraja menjadi penunjukkembalinya label Iwan Tirta Private Collection setelah wafatnya maestro batik itu lima tahun kemudian. "Ini peragaan tunggal pertama sehabis Mas Iwan wafat," kata Direktur Kreatif Iwan Tirta Private Collection, Era Soekamto, Senin dua pekan kemudian.

Label Iwan Tirta sebelumnya memang sempat menggelar peragaan bertajuk Hasta Brata pada final tahun lalu di Jakarta Fashion Week. Namun gelaran itu tidak seakbar Dewaraja, yang digelar khusus di ballroom Hotel Fairmont Jakarta, Senayan. Kali ini, Era menampilkan 60 busana gres dan menggali lagi sebagian motif dari 10 ribu koleksi motif batik warisan Iwan.

Era sengaja tidak memilih batik-batik yang kental dengan nuansa regalia Jawa—apalagi yang terkait Mangkunegaran—selaku benang merah utama Dewaraja. Ia justru menghidangkan tafsiran lain soal batik-batik Iwan Tirta dengan memutuskan motif Bali dan Cirebonan dalam Dewaraja.

“Sebenarnya Dewaraja ini yakni desain universal tentang penelusuran spiritual, yang ternyata terekam dalam batik-batik Mas Iwan Tirta,” katanya. Dewaraja yang dimaksudkan di sini ialah konsep kepemimpinan saat seorang raja sudah meraih tahap kecerdikan tertentu sehingga mempunyai sifat tuhan dalam dirinya.

Dewaraja pasti menyajikan koleksi yang jauh berlawanan dengan ciri khas Iwan Tirta, yang selalu mengusung regalia Jawa dan batik keraton sehingga kerap disebut batik para raja. Mengambil persepsi baru dari motif-motif lain tentu menciptakan sebagian orang kurang sreg dengan pendekatan Era.

“Rasanya tidak seperti melihat batik Iwan Tirta,” ucap Pauly Pattypelohi, mantan ajun Iwan Tirta, terhadap Tempo. Meski Pauly menyebut Era sebagai desainer yang sangat berbakat, dia merasa Era kurang mengenal huruf Iwan Tirta. “Biasanya Mas Iwan jikalau membikin tema koleksi berdasarkan tokoh yang betul-betul ada,” ujar Pauly.

Pendapat serupa juga dilontarkan kritikus mode Anton Diaz. Ia merasa tidak begitu puas dengan Dewaraja. Satu hal yang menjadi sorotan Anton yaitu jas pria dengan motif batik tulis yang dirancang oleh Era.

“Iwan Tirta enggak bakal bikin jas semacam itu,” kata Anton. Ia juga menyebut penyeleksian sepatu pria ataupun ikat pinggang yang terasa kurang rapi dan bergaya untuk label Iwan Tirta. “Seharusnya Era selaku desainer juga mesti mengamati detail semacam itu.”

Reaksi bertentangan justru muncul dari sebagian besar penonton. Selain tepuk tangan riuh, banyak yang berdiri untuk menunjukkan penghormatan bagi Era di pengujung acara peragaan pakaian. Sebagian mengaku sungguh puas dan tak mampu menahan diri untuk melontarkan pujian sebelum peragaan selsai. “Aku suka koleksinya, terutama untuk pakaian laki-laki,” ujar Editor Mode Majalah Prestige, Peter Zewet.

Siluet new look ala Dior—dari jaket yang seperti baju kurung, gaun berpotongan mullet, atau jubah ala Sherlock Holmes—yang menjadi pandangan baru Era dalam Dewaraja, rupanya berhasil memancing balasan faktual penonton. Pilihan warna batik yang lebih cerah, seperti warna terakota ataupun hitam-putih ala jelas bulan, ternyata sukses menawan perhatian.

Sepekan setelah peragaan, sebagian koleksi dengan kisaran harga jutaan rupiah ini, yang mulai dijual lewat situs iwantirtabatik.com dan disebut selaku galeri ke-11 Iwan Tirta, telah laris terjual. Tentu saja ini menunjukan eranya Era. Saat ini, dia tidak bakal bisa menciptakan puas siapa pun yang fanatik terhadap Iwan Tirta. Tempo.co
LihatTutupKomentar