Batik Trendi Model Batik Zaman Sekarang

Lewat usaha batik yang diberi nama batik bi, lima sekawan Gita Ratna Gilangkencana (40), Ade Krisnawati Utomo (39), Camelia Anwar (40), Helen Dewi Kirana (40), dan Widianawati (40) menyulap batik menjadi produk yang bisa diterima siapa saja.


Usaha ini berawal dari keprihatikan Gita menyaksikan kondisi batik di Indonesia. “Selama ini batik hanya dikenakan ketika program-agenda resmi,” kata Gita yang telah dekat semenjak Taman Kanak-kanak dengan 4 temannya, kecuali Ade. Padahal, lanjut perempuan yang sejak kecil “dipaksa” ibunya untuk mengasihi dan mengenakan batik ini, beliau sering melihat belum cukup umur muda India dengan bangganya memakai kain sari sewaktu mereka pergi ke kawasan umum.

Camelia membenarkan, di antara 5 sekawan ini memang Gita yang sejak muda paling getol menggunakan batik. “Tapi batik yang digunakan merupakan baju batik dengan model trendi, bukan versi baju ibarat orangtua. Jadi tampaknya anggun, dan kami pun nge-klik,” papar Camelia. Gita pula yang mengajak 4 temannya untuk “mengkampanyekan” batik biar bisa diterima segala usia.

Gagasan membuat batik tampil modern sesungguhnya sudah muncul lama, tahun 2000. Berhubung kesibukan masing-masing, gres tahun 2006 lalu wangsit ini terlaksana. Proses menularkan “virus” batik ternyata bukan pekerjaan simpel.

Beragam cara dilaksanakan 5 sekawan ini, salah satunya dikerjakan Gita dikala menghadiri pesta. Ia tak lagi mengenakan kebaya ketika menghadiri pesta, namun memakai baju pesta dengan motif batik.

Sering Ditiru

Ternyata, usaha ini mulai membuahkan hasil. Belakangan lima sobat ini mendapatkan resep jitu untuk mengobarkan penggunaan batik. “Awalnya kami lebih konsentrasi ke model baju, bukan motifnya,” tandas Ade. Ternyata, upaya ini membuahkan hasil. Dengan baju-baju versi terkini, batik praktis diterima penduduk .

Ada cara unik yang mereka kerjakan untuk mengetes pasar sebelum produk diluncurkan. Mereka menciptakan 1 atau 2 contoh dan mereka kenakan sendiri. Dari “etalase berjalan,” mereka akan mendapat masukan, apakah baju gres yang mereka kenakan menawan perhatian orang atau tidak. “Jika komentarnya kasatmata, baru kami bikinan lebih banyak.”

Sampai dikala ini, telah ratusan bahkan ribuan versi baju keluaran batik [bi], bahkan rancangan batik [bi] kerap ditiru. Salah satunya versi baju batik kalung, yakni batik ditambah pemanis kalung. “Dulu, kami yang mengawali model begini,” tambah Gita.

Batik [bi] tak cuma mengolah batik, namun juga mengaplikasikannya dengan jenis kain lain. Beberapa produk batik [bi] juga terlihat bagus dan unik dengan beragam aplikasi pelengkap mirip manik-manik, bulu, dan lain-lain. “Kami yang memelopori baju batik kalung, baju dengan suplemen kalung manik-manik,” kata Gita.

Batik [bi] juga mengangkat batik lawas. Batik dengan warna-warna pucat itu disulap menjadi baju-baju trendi. Caranya dipadukan dengan kain lain. Salah satu penemuan batik (bi) yakni batik gempa, yang dibuat warga Bantul yang tertimpa bencana alam gempa. Di setiap baju dari batik gempa, senantiasa ada nama dan alamat si pembuatnya. “Jadi pembeli mendapat suplemen nilai lagi,” sela Ade.

Yang sekarang sedang dikembangkan dan merupakan penemuan batik [bi] adalah batik eyelet, yakni batik dari kain eyelet yang berlubang-lubang. “Enggak mudah lo, membatik di kain ini, namun kami sudah menemukan tekniknya. Bisa dikatakan, batik eyelet ini temuan kami,” tambah Ade.

Soal harga, “Pokoknya, menjangkau semua lapisan,” kata Ade. “Mahal itu relatif. Batik (tulis atau cap) prosesnya, kan, lama. Makara masuk logika, kalau harganya juga beda. Jangan bandingkan dengan kain print,” tambah Gita yang tak menilai kain print dengan motif batik selaku batik. “Batik itu ya, yang prosesnya ditulis atau dicap. Kalau diprint bukan batik.”
LihatTutupKomentar