Desa Batik Di Perbukitan Yang Bernama Limbasari

Biasanya, sentra-pusat batik di Jawa berada di sekeliling sentra pemerintahan atau sentra ekonomi. Namun tidak demikian halnya Desa Limbasari, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga, Jawa Tengah.
Kampung itu cukup jauh dari pusat Kota Purbalingga alasannya berjarak sekitar 15 km. Dari pusat Kota Kecamatan Bobotsari, letak Desa Limbasari haruslah melewati jalan masuk yang jaraknya sekitar 5 km. Jalannya naik turun, karena Limbasari berada di lereng timur Gunung Slamet.

Memasuki desa setempat, tampaksejumlah warga duduk dengan dingklik pendek yang yang dibuat dari kayu. Di depannya ada lain yang ditaruh pada suatu tiang bambu. Para perempuan itu memegang canting yang setiap kali dicelupkan ke dalam wajan kecil berisi malam. Di bawah wajan kecil ada kayu dengan nyala api. Lalu tangan-tangan mereka melukiskan malam ke kain mori yang masih berwarna putih itu.

Pemandangan seperti itu biasanya berada di samping rumah. Mereka bergerombol tiga sampai lima orang. Di desa setempat, dari sekitar 698 keluarga, 500 di antaranya bisa membatik. Boleh dikatakan, batik tidak mampu dilepaskan dari keluarga di Limbasari.

“Beginilah kami kerja setiap harinya. Sudah puluhan tahun kami menjalani. Mulai dari membuat teladan sampai membatik,”ujar Enmiyarti, Ketua Paguyuban Pembatik Putri Ayu, Desa Limbasari.

Kadang-kadang dia memang ikut membatik, terlebih bila itu merupakan inspirasi darinya. Sejak permulaan menciptakan pola hingga membatik, ia menjalankan sendiri. “Namun, saya juga dibantu oleh tiga orang perempuan yang semenjak lulus Sekolah Menengah Pertama sudah membatik. Sampai kini, mereka tetap setia dengan batik tulis. Karena di sini sebagian besar memang mengembangkan batik tulis,”kata Enmiyarti.

Ketekunan membatik tulis itu juga tampakdari tiga orang pembatik yang tengah melakukan pekerjaan di samping rumahnya. Mereka merupakan Marliah, 45, Sarohmi, 47, dan Kasipah, 47. Tangan-tangan mereka tampakterampil menggoreskan malam di kain mori yang disampirkan pada tiang bambu di depannya. Sesekali mereka tampakmeniup canting alasannya supaya malam tidak mengeras.

“Biasanya, kami melakukan pekerjaan semenjak pagi sekitar jam 08.00 WIB pagi hingga sore jam 15.00 WIB. Pekerjaan ini tidak mesti sesuai dengan jam kerja, alasannya jikalau ada kepentingan lain dapat ditinggalkan sementara. Sebab, bayarannya kan satu potong kain. Upahnya berkisar antara Rp35 ribu hingga Rp50 ribu setiap potongnya,”kata Sarohmi.

Enmiyarti menambahkan bahwa budaya batik di desanya sudah ratusan tahun silam, tetapi ia tidak bisa menegaskan mulai tahun berapa. “Yang jelas, ketika saya masih kecil, banyak nenek-nenek yang masih membatik. Padahal, wakti itu saya belum bersekolah, sudah banyak yang membatik. Dulunya, mereka menyetorkan hasil batikan terhadap juragan di Bobotsari. Yang pasti, semenjak dahulu hingga sekarang, di Desa Limbasari sebagian besar ialah batik tulis. Kalau memang ada batik cap, lazimnya bukan pekerjaan orang Limbasari. Umumnya, batik yang sudah dicap dibawa ke sini untuk ditambahi dengan batik tulis,”katanya.

Bahkan, di sini tidak ada proses pewarnaan, alasannya yaitu warga Limbasari cuma benar-benar khusus membatik tulis. Pewarnaan umumnya akan dikerjakan di Sokaraja, Banyumas. Setelah selesai, nantinya diambil lagi ke Limbasari untuk dijual. “Harga batik di sini berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp300 ribu. Karena batik di sini tulis, maka kadang kala kami kerepotan menerima pesanan. Sebab, dalam satu bulan, misalnya, aku bareng tiga pembatik cuma bisa membuat 20 potong kain batik,”katanya.

Meski demikian, hal itu tidak membuat mereka patah semangat, alasannya ada pendapatan yang diperolehnya untuk pelengkap belanja keluarga.Kalau kini pemasaran telah sangat terbuka lebar, terlebih pegawai negeri sipil (PNS) di Purbalingga sudah diwajibkan memakai batik sejak Kamis hingga Sabtu.

Yang justru jadi hambatan, kata Enmiyarti, yakni sulitnya mencari tenaga kerja. “Bukan dilema mereka tidak mampu membatik. Bukan itu. Karena semenjak kecil, warga di sini sedikit banyak sudah dilatih oleh orang tuanya membatik, sebab mereka punya peralatan di rumahnya masing-masing. Justru yang jadi halangan yakni alternatif pekerjaan lain. Misalnya menjadi tenaga kerja perempuan (TKW) di mancanegara atau melaksanakan pekerjaan menjadi buruh pabrik rambut,”ujarnya.

Saat sekarang, banyak pabrik rambut yang mencari buruh di desa-desa untuk melaksanakan pembuatan bulu mata artifisial. “Banyak dari warga yang lebih memilih itu, meski kadang-kadang tetap mendapatkan pesanan batik. Selain itu, banyak dari generasi muda perempuan sehabis selesai sekolah lebih memilih melaksanakan pekerjaan di mancanegara. Memang barangkali dari segi pemasukan, membatik kalah dengan pekerjaan menjadi TKW. Namun, bila ditekuni terus, membatik juga prospektif pendapatan tidak mengecewakan, apalagi kalau mutu pembatikannya cantik,”ungkapnya.

Kepala Desa Limbasari Agus M Tirtamenggala menyampaikan boleh dikatakan bila 70 persen lebih keluarga di desa setempat bisa membatik. Mereka juga memiliki peralatan seperti canting, wajan kecil dan kawasan menyampirkan kain dari bambu. “Itu telah terjadi ratusan tahun silam. Praktis-mudahan ini masih tetap bisa dipertahankan, meski saingannya yaitu menjadi buruh bulu mata imitasi atau berangkat ke mancanegara,”tambah Agus.

Menurutnya, Desa Limbasari memang cukup unik, alasannya yakni desa yang jauh dari kota justru berkembang tradisi membatik. “Dari dongeng para tetua di Limbasari, kemungkinan besar berkembangnya batik justru mulai terjadi ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Para kesatria Kerajaan Mataram banyak yang melarikan diri, salah satunya ke Limbasari. Limbasari memang dipandang sebagai tempat terpencil, alasannya waktu itu mesti menyeberang Sungai Klawing dengan jalan setapak yang menanjak. Itulah mengapa batik Limbasari mampu meningkat hingga kini ini. Meski memang, tidak ada catatan sejarah yang niscaya soal asal usul batik di Limbasari,”ungkapnya.
LihatTutupKomentar