Jimmy Afaar Kantongi 700 Juta Pertahun Dari Memasarkan Batik

Tidak dipungkiri lagi, wilayah Papua masih jauh tertinggal dibanding daerah lain di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Makasar dan lain sebagainya. Namun siapa sangka, selain memiliki daerah yang indah, Papua juga memiliki produk yang dijual ke luar negeri dan menembus pasar Eropa.
Adalah Jimmy Afaar yang bisa menciptakan batik orisinil Papua. Dia memulai karirnya menjadi tangan kanan desainer dalam negeri. Lalu, ia mencoba untuk bikin rancangan baju dan motif sendiri. "Saya dulu jadi ajun desainer. Tetapi, saya disuruh maju untuk membuatbatik ini," ujar dia mirip dikutip dari mеrdеkа.соm.

Sebelum berkarya menciptakan batik, Jimmy apalagi dahulu berguru untuk menulis batik di Pekalongan, Jawa Tengah. Usai berguru selama enam bulan, laki-laki asal Jayapura ini pulang kampung untuk mulai membangun usahanya.

Dengan modal cuma Rp 6 juta, pada tahun 2007 Jimmy bisa membuat 16 kain batik dengan motif burung Cenderawasih yang identik dengan Papua. Lalu, ia jual dalam festival yang digelar di Jayapura. Jimmy pun tidak menyangka dagangannya laku cantik.

Bahkan, banyak konsumen yang memesan kain batik tersebut. Hasil dagangannya sebesar Rp 60 juta pribadi dijadikan kain batik untuk dipasarkan kembali. Hingga ketika ini, Jimmy bisa meraup untung Rp 700 juta per tahun. "Omzetnya paling minim itu Rp 50-60 juta per bulan," kata ia.

Saat ini, perjuangan Jimmy telah memberdayakan enam orang untuk menolong ia dalam menulis batik dengan motif Papua. Harga kain batiknya pun bermacam-macam, mulai dari Rp 125.000 per meter hingga Rp 4,75 juta per meternya.

Kain batiknya pun dijual di kota-kota besar ibarat Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Surabaya dan Semarang sampai pasar di Eropa.
LihatTutupKomentar