Kampung Laweyan Dan Alpha Febela

Nama Kampung Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, kembali timbul permulaan tahun ini. Kampung yang dikenal lewat produk batik serta kehidupan khas para perajin dan saudagar batiknya itu tampil di media melalui sosok Alpha Febela Priyatmono. Dia mendapat penghargaan Upakarti untuk pembagian terstruktur mengenai jasa kepeloporan. Sejak 2004 ia menjadi Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan.

Upakarti bagi Kampung Laweyan, kata Alpha, sangat berarti. Penghargaan yang diberikan untuk golongan industri kecil dan menengah itu menunjukkan eksistensi Kampung Laweyan sudah diakui pemerintah dan penduduk .

”Pengakuan itu perlu biar kami terpacu untuk lebih membuatkan wilayah ini. Di sini juga dituntut tanggung jawab kami untuk menyebabkan Laweyan betul-betul menjadi kawasan sentra industri batik dan heritage yang berakal. Pintar dalam arti industri yang ramah lingkungan, ekonomis energi, melek wawasan dan teknologi, dengan tak meninggalkan nilai tradisionalnya,” katanya.

Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) yaitu organisasi pemberdayaan penduduk terbuat pada 25 September 2004 seiring dengan dibentuknya Kampoeng Batik Laweyan. FPKBL menjadi salah satu belahan dari warga Laweyan untuk menyebarkan pariwisata berbasis industri batik dan nonbatik, seperti sejarah, bangunan, dan tradisi tempat ini.

”Sebenarnya peran kami cuma menjadi koordinator dan fasilitator,” kata Alpha. Padahal, melalui FPKBL, program pengembangan Laweyan berlangsung, mulai dari mengurusi duduk perkara permodalan, penawaran khusus, hingga pelestarian daerah.

Segala kendala, mulai dari menyadarkan ahli waris tentang pentingnya melestarikan bentuk bangunan yang menggambarkan beragam arsitektur pada zaman keemasan Mbokmase (istilah untuk perempuan saudagar batik Laweyan) dan Mas Nganten (laki-laki saudagar batik Laweyan) hingga minimnya modal perjuangan dan sulitnya memasarkan produk itu, harus mereka lalui.

Hasilnya? Kalau tahun 2004 jumlah pebisnis batik Laweyan tercatat 22, kini berubah menjadi 56 usahawan atau lebih dari dua kali lipat. Seiring dengan viralbatik di pasaran, pendapatan warga Laweyan pun meningkat, bahkan sampai sekitar 200 persen.

Selain industri batik yang berkembang sesudah mati suri semenjak 1970-an, konservasi bangunan rumah tinggal para juragan batik Laweyan yang tak terawat, bahkan rusak, pun mulai ditata. Ada sebagian rumah yang berubah fungsi, menyerupai menjadi hotel atau daerah konferensi, tetapi bentuk bangunan yang bergaya indische, utamanya art deco, relatif dipertahankan.

Gаrа-gаrа tеѕіѕ

Alpha menetap di Laweyan semenjak menikah pada tahun 1985. Istrinya, Juliani Prasetyaningrum, berasal dari keluarga juragan batik Laweyan. Usaha batik keluarga yang turun-menurun sejak 1956 itu punya bermacam-macam merek, di antaranya Mahkota Djaja, Tiga Dara, Tjap Ajam, Nusa Indah, Mustika Djaja, dan sekarang Mahkota Laweyan.

Namun, sama ibarat nasib juragan batik Laweyan yang mati suri semenjak hadirnya batik printing, usaha keluarga Alpha pun surut. Keturunan juragan batik Puspowijoto ini pun melakukan pekerjaan di banyak sekali bidang karena batik tak bisa lagi dijadikan sandaran hidup.

”Sebagai arsitek, bahu-membahu semenjak lama aku kagum pada Kampung Laweyan. Tetapi, lebih dari 20 tahun perasaan itu terpendam. Kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Baru pada tahun 2003 ketika saya menyusun tesis untuk S-2 di Magister Desain Kawasan Binaan Jurusan Arsitektur UGM terpikir untuk mengambil tema kawasan Laweyan,” ceritanya.

Demi tesis, Alpha mulai meneliti dan menggali kesempatanLaweyan, utamanya dari sudut arsitekturnya. ”Setelah meneliti beberapa bulan, saya kian percaya Laweyan memang layak dikembangkan selaku heritage, menjadi kawasan pariwisata bukan cuma lantaran kekhasan arsitektur bangunan-bangunannya, tetapi juga batik dan sejarahnya,” katanya.

Mengingat sebagian bangunan di Laweyan waktu itu tak terawat, bahkan condong rusak, beliau merasa perlu melaksanakan sesuatu. Agar Laweyan selaku salah satu penunjukKota Solo tidak lenyap begitu saja, tahun 2004 dibentuklah FPKBL bersamaan dengan diresmikannya Kampoeng Batik Laweyan.

”Sebenarnya saya sudah kepincut dengan Laweyan semenjak 1983. Waktu itu aku menyusun skripsi S-1 jurusan arsitektur, judulnya Kampung Batik Sondakan Surakarta. Sondakan yaitu salah satu kelurahan di Kecamatan Laweyan,” kata Alpha.

Adanya FPKBL menciptakan warga Laweyan pada umumnya memiliki rasa mempunyai daerah itu. Mereka seakan disadarkan akan pentingnya mempertahankan Laweyan dari kemungkinan kepunahan. Untuk itu dibutuhkan kiprah serta semua pihak. ”Kami lalu membuat semacam grand rancangan, mana daerah yang dapat berganti dan mana yang harus dipertahankan,” katanya.

Mеnumbuhkаn ѕtіmuluѕ

Lewat FPKBL daerah Laweyan ditata kembali sesuai dengan kondisinya sekarang. Ketika itu ada 30 bangunan yang mendesak diperbaiki. Untuk mengonservasi bangunan itu, pada Agustus 2008 Laweyan mendapat pinjaman dari pemerintah pusat. Masing-masing rumah yang perlu secepatnya diperbaiki mendapatkan dana sekitar Rp 20 juta.

”Pemilihannya menurut kondisi bangunan dan pemiliknya dinilai kurang bisa memperbaiki sendiri. Padahal, bentuk bangunan itu pantas dipertahankan. Revitalisasi ini melibatkan warga alasannya Laweyan adalah tempat yang masih ’hidup’,” katanya.

Konservasi bangunan itu ternyata menumbuhkan stimulus pada warga. Mereka yang tak lagi bikin batik mulai tergerak untuk kembali menggeluti industri batik. Berbagai kegiatan penunjang Kampoeng Batik Laweyan pun bergerak, mulai dari diadakannya pentas budaya dan sarasehan rutin setiap bulan, adanya kajian tradisi dan bahasa Jawa, didirikannya Laweyan Batik Training Centre, koperasi batik, instalasi pembuatan air limbah batik komunal, sampai menjadikan Laweyan selaku obyek rekreasi terpadu.

Tahun 2005 Alpha menggeluti perjuangan batik. Di rumah sekaligus ruang pamernya, dipajang produk batik berdesain klasik ataupun kekinian dalam aneka macam bentuk, mirip kain, baju, taplak, seprai, dan pelengkap rumah. Keluarganya juga tinggal di rumah renta yang dipertahankan bentuk aslinya. Rumah berarsitektur Jawa dengan pendopo, patangaring, ndalem, dan sentong untuk memisahkan kegiatan publik dan langsung. Kompas Cetak
LihatTutupKomentar