Kesalahan Utama Batik Pekalongan Yaitu Kurangnya Penjualan

Chief Executive Officer (CEO) Frontier Consulting Group dan salah satu pendiri Hari Marketing Indonesia (HAMARI) Handi Irawan menerangkan produk batik Pekalongan paling banyak diminati pebisnis retail baik dalam maupun luar negeri.


Bahkan lebih dari 50 persen produk batik yang dijual dalam negeri, diambil dari Pekalongan. Namun kekurangan produk batik Pekalongan, ialah kurangnya penawaran spesial dan penjualan. Karena hal itu, harga batik Pekalongan cuma dijual murah, kemudian dijual kembali oleh pebisnis retail dengan harga mahal.

"Kesalahan terbesar kenapa kota Pekalongan tidak maju, mereka tidak memarketingkan produk batiknya," ujar Handi di Balai Soesilo Sudarman ketika pelantikan HAMARI, seperti dikutip dari Tribunnews.

Handi menunjukan harga satu baju batik di Pekalongan cuma dijual Rp18 ribu. Dengan harga jual sekecil itu, produsen batik Pekalongan hanya mengambil untuk Rp2.000 terbesar. "Kalau kita lihat profit margin cuma Rp1.000 hingga Rp2.000, padahal Pekalongan kota yang sungguh maju dengan industri batik," ungkap Handi.

Handi mengungkapkan dengan pelantikan HAMARI, produk setempat menyerupai batik pekalongan bisa mempunyai nilai tambah. Otomatis hal tersebut mampu mengembangkan nilai jual. "Ini dijadikan acuan seandainya marketing dimajukan, design dimajukan, value edit dalam konteks marketing, harganya dapat menjadi mahal," papar Handi.
LihatTutupKomentar