Mengajar Belum Dewasa Membatik, Tak Hanya Mengajari Menyanthing/Dedi H Purwadi/Batikjolawe

Rabu siang (30/10/19) ini nyaris seluruh siswa kelas 2&3 SD Jarakan, Bantul, akseptor ekskul membatik, final menyanthing sehabis 5 kali konferensi. Pekan depan, mereka masih melanjutkan dengan menerapkan teknik membatk yg berlawanan. Tapi masih di kain yg sama (115x150cm). Setelah itu proses pewarnaan dengan PEWARNA ALAMI.   Ada hal penting yg saya tekankan dalam mendampingi anak-anak belia ini dikala menciptakan batik. Bahwa bikin batik BUKAN SEKADAR MENOREHKAN MALAM DENGAN CANTING. Kalau hanya ini, teknis banget! Sejak permulaan sy menekankan, mengingatkan, memberikan, PEMAHAMAN, SIKAP DAN PERILAKU membatik. SEJAK AWAL saya ajak mereka untuk mengetahui ancaman yg bisa mereka alami (kompor panas, canting panas, wajan panas, cairan malam nan melepuhkan). Lalu, mereka saya ajak untuk mempertimbangkan cara menyingkir dari dan mengantisipasinya. "Fokus, Pak!" itu salah satu tanggapan dari salah satu siswa kelas 2. Benar. Tak cuma itu: Penting duduk dengan benar, memegang canting secara benar, memegang kain secara benar, TIDAK BERCANDA SELAMA MEMBATIK, HATI-HATI, TIDAK BERKELIARAN SELAMA MEMBATIK, meletakkan canting saat mengatakan, tidak makan-minum dan pegang handphone di aktivitas membatik. Tentu saja, untuk mencapai hasil harus SABAR. Alhamdulillah. Zero accident! Ada siswa yang cukup cepat menylesaikan pembatikannya, ada yg sangat lambat (tetapi akibatnya final juga tanpa merasa diburu-buru). Masih ada yg menetes?WAJAR. Biar saja. Berani mendekati kompor dan panas saja sudah hеbаt. Yang jelas, batik yg mereka kerjakan benar-benarmereka yg mengerjakannya, alasannya adalah pekerjaan mereka ini saya bawa pulang. Apapun wujudnya, itu ialah hasil bawah umur BERPROSES. Tentu saja, untuk mencapai itu saya mesti siap selalu menghadapi keriuhan/kecerewetan/ketaksabaran untuk cepat dilayani, di setiap konferensi. Selalu berkeliling dari golongan ke golongan, menilik kompor, menilik canting, memperbaiki cara memegang kain, memperbaiki posisi duduk, memotivasi yg rada lemotsss (yg kesannya mampu ngebut hahaha....), dst. Yang menarik juga menggembirakan saya, siswa yg sudah tamat awal, bertanya ke saya "apakah boleh menolong temannya?" yang saya jawab "boleh". Proses menolong ini pun ada caranya. Agar tak crowded. Begitulah. MEMBATIK, APALAGI UNTUK ANAK2, BUKAN SEKADAR MENOREHKAN MALAM DENGAN CANTING. Tentulah, aku mesti berterima kasih terhadap dua ibu ini: Ibu Srі Wіwаrа dan Ibu Trijayadi dari Komite Sekolah yg menolong aku. Salam....(dеd)







LihatTutupKomentar