Mengenal Batik Jawa Hakokai

Setelah sekian waktu mempertimbangkan perihal aneka macam topik paling menawan perihal batik untuk dibahas di tahun 2012 ini, hasilnya kami memutuskan mengangkat suatu dongeng antik yang membuat banyak pecinta batik penasaran akan kisah perjalanan batik satu ini di Indonesia.


Kali ini Infо Sерutаr Bаtіk mengutip suatu isu dari “Batik Indonesia” perihal Cerita Batik Jawa Hokokai.

Setelah sekian lama mempelajari dan menelusuri ihwal apakah batik Jawa Hokokai juga disebut batik Jawa antik atau tidak, kesannya kami bisa menampilkan sebuah kesimpulan.

Bаtіk Jаwа Hokokai yang mulai dibikin pada tahun 1942 selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, pastinya tergolong batik antik jikalau kita pelajari dari tata bahasa. Namun, dalam menggolongkan jenis-jenis batik, maka dibuatlah suatu perbedaan ihwal batik Jawa antik dan batik Jawa Hokokai.

Batik Jawa antik ditetapkan selaku batik dengan motif-motif orisinil Indonesia (Keraton) yang bukan saja dibuat pada jaman dahulu melainkan merupakan batik yang khusus digunakan oleh kelompok tertentu. Sebut saja salah satu motif batik tertua, kawung. Selain itu ada juga Sidomukti, Limaran, Parang, Gringsing, dan lain-lain.

Bаgаіmаnа dеngаn Bаtіk Jаwа Hоkоkаі?

BATIK sungguh cepat menyerap potongan-kepingan gres yang berada di sekeliling penduduk , khususnya batik-batik dari tempat pesisir. Batik Belanda menjadi ungkapan khusus untuk menggambarkan pengaruh orang-orang Belanda di Jawa. Ada batik dengan motif yang berasal dari kisah Si Runjung Merah (Little Riding Hood), ada motif rangkaian bunga yang diikat pita dan disebut selaku motif buketan dari asal kata bouquet. Motif burung hong, singa, merak, ialah beberapa yang memberikan imbas Cina.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942-1945 selaku bagian dari kampanye penaklukan Asia Timur Raya, efek Jepang juga terasa pada batik-batik di pesisir utara Jawa Tengah. Pada kurun itu, dilahirkan batik-batik tulis yang disebut sebagai batik Jawa Hokokai. Nama ini mengikuti nama organisasi propaganda Jepang yang mengindoktrinasi semua yang berusia di atas 14 tahun perihal rancangan Asia Timur Raya. Mungkin lantaran kala pendudukannya yang singkat serta kekejaman Jepang yang hebat selama 3,5 tahun era penjajahan itu, maka sedikit saja berita yang tersedia ihwal batik Jawa Hokokai. Juga belum ada tabrakan pena yang khusus membahas batik dari masa ini.

Batik-batik dari abad 1942-1945 yang sering disebut sebagai batik Jawa Hokokai ini dipamerkan di Gedung Arsip Nasional pada tanggal 13 September – 24 September 2000 dari pukul 09.00-16.30, tergolong Minggu. “Pada hari Kamis (21/9) malam ada presentasi batik Jawa Hokokai dari Iwan Tirta di Gedung Arsip, semestinya yang terpikatmemesan tempat lebih dulu karena tempatnya terbatas,” kata Tamalia Alisjahbana, Direktur Eksekutif Yayasan Gedung Arsip Nasional.

Iwan Tirta dalam bukunya Batik, A Play of Light and Shades, menyebutkan para juragan batik memperkenalkan batik Jawa Hokokai selaku tanda “penyesuaian” kepada penguasa baru agar mereka mendapatkan daerah. Batik Hokokai mengingatkan pada sehelai kanvas, di mana setiap bidangnya diisi dengan rapat oleh ragam hias. Bunga sakura dimasukkan ke dalam batik Hokokai, namun secara keseluruhan tidak ada dampak khusus rancangan Jepang. Menurut Iwan, batik Hokokai tampak selaku evolusi alamiah banyak batik lain di pantai utara Jawa yang dipengaruhi oleh Cina dan Eropa.

Hermen C Veldhuisen dalam Fabric of Enchantment, Batik from the North Coast of Java, secara singkat menyebut batik Hokokai dibentuk di bengkel-bengkel milik orang Indo-Eropa, Indo-Arab, dan Peranakan, yang diharuskan melaksanakan pekerjaan untuk orang-orang Jepang alasannya adalah mutu pekerjaan bengkel mereka yang sungguh halus. Sedangkan kain katunnya dipasok oleh orang-orang yang ditunjuk oleh tentara pendudukan Jepang.

Ciri-ciri kain panjang pada periode ini berdasarkan Veldhuisen merupakan penuhnya motif bunga pada kain tersebut. Meskipun gaya batik ini disebut selaku diperkenalkan oleh dan untuk Jepang, namun bahwasanya gaya ini telah muncul bertahun-tahun sebelumnya. Bengkel kerja milik orang Peranakan di Kudus dan Solo pada tahun 1940 telah memakai motif buketan yang berulang, dengan latar belakang yang sungguh padat dan disebut selaku buketan Semarangan. Kain-kain ini dibuat untuk Peranakan kaya di Semarang.

Kain batik pagi-sore, ialah kain batik yang terbagi dua oleh dua motif yang bertemu di penggalan tengah kain secara diagonal, juga bukan merupakan ciri khas batik Hokokai, karena kain pagi-sore ada kain pagi-sore yang dibuat pada tahun 1930 di Pekalongan. Dengan kain pagi-sore, efisiensi pemakaian menjadi salah satu tujuan alasannya selembar kain bisa dipakai untuk dua potensi dengan motif berlawanan. Warna yang lebih gelap lazimnya dipakai di bagian luar untuk pagi dan siang hari, sementara penggalan yang berwarna pastel dipakai pada acara malam hari.

Meskipun begitu, Veldhuisen menyebutkan batik Hokokai merupakan salah satu teladan gaya batik yang paling banyak berisi detail, menggabungkan ciri pagi-sore, motif terperinci bulan, dan tanahan Semarangan. Batik Hokokai memakai latar belakang yang penuh dan detail yang digabungkan dengan bunga-bungaan dalam warna-warni yang cerah. Motif terang-bulan awalnya yakni rancangan batik dengan motif segi tiga besar menaik secara vertikal di atas latar belakang yang sederhana.

Meskipun buku-buku tentang batik umumnya cuma menyebut sekilas saja wacana batik Jawa Hokokai, namun Yayasan Gedung Arsip Nasional berhasil menyusun katalog pameran dengan menggunakan gosip dari nara sumber yang masih ada. Mereka merupakan pengumpul batik atau juragan pembuat batik, mirip Ny Eiko Adnan Kusuma, Ny Nian Djoemena yang menulis beberapa buku perihal kain Indonesia, dan Iwan Tirta yang artisan batik.

Kain-kain batik Jawa Hokokai yang dipamerkan di Gedung Arsip Nasional itu nyaris seluruhnya ialah batik pagi-sore dengan warna yang cemerlang. Kupu-kupu ialah salah satu motif hias yang menonjol selain bunga. Meskipun kupu-kupu tidak memiliki arti khusus untuk masyarakat Jepang, namun orang Jepang sungguh menggemari kupu-kupu. Namun, kupu-kupu dianggap bukan merupakan pengaruh Jepang, melainkan dampak dari juragan Cina yang bikin batik di workshop mereka. Untuk orang Cina, khususnya yang berada di Indonesia, kupu-kupu merupakan lambang cinta baka seperti dalam kisah Sampek Engtay.

Mоtіf bаtіk yang dominan lainnya yaitu bunga. Yang paling sering timbul ialah bunga sakura (cherry) dan krisan, walaupun juga ada motif bunga mawar, lili, atau yang sesekali timbul yaitu anggrek dan teratai.

Motif hias yang sesekali timbul yakni burung, dan selalu burung merak yang merupakan lambang keindahan dan keanggunan. Motif ini dianggap berasal dari Cina dan kemudian masuk ke Jepang.

Hampir semua batik Jawa Hokokai menggunakan latar belakang (isen-isen) yang sungguh rincian mirip motif bendo dan kawung di kepingan tengah dan tepiannya masih diisi lagi dengan contohnya motif bunga padi. Menurut Tamalia, itu menggambarkan situasi saat itu di mana kain sangat terbatas sehingga pembatik memiliki banyak waktu untuk melaksanakan selembar kain dengan ragam hias yang padat. Sebagian batik Hokokai ada yang memakai susumoyo yakni motif yang dimulai dari salah satu pojok dan menyebar ke tepi-tepi kain tetapi tidak bersambung dengan motif serupa dari pojok yang berlawanan.

Meskipun namanya berbau Jepang dan timbul pada periode pendudukan Jepang, tetapi menurut Tamalia batik Hokokai tidak diproduksi untuk keperluan Jepang melainkan untuk orang-orang Indonesia sendiri. Batik-batik itu mulanya dipesan oleh orang dari lembaga Jawa Hokokai untuk orang-orang Indonesia yang dianggap berjasa dalam propaganda Jepang. Kemudian batik menyerupai ini menjadi mode dan banyak orang Indonesia kaya yang ikut membeli batik dengan ciri tersebut.

Yang masih menyebabkan pertanyaan, walaupun pendudukan Jepang atas Indonesia diingat sebagai era penjajahan yang sungguh pahit, tetapi mengapa kepahitan itu tidak timbul dalam ragam hias sama sekali. Justru batik Jawa Hokokai memberi kesan lazim suatu kegembiraan dengan warna yang cerah, bunga, kupu-kupu, merak. Di sini, memang masih diperlukan riset lebih jauh ihwal batik ini.

Jаwа grеѕ

Setelah Perang Dunia II usai, Jepang takluk dan angkat kaki dari Indonesia, batik selaku industri mengalami era surut. Namun, motif-motif batik terus meningkat , mengikuti suasana. Ketika itu juga timbul istilah seperti batik nasional dan batik Jawa baru. Batik Jawa gres bisa disebut selaku evolusi dari batik Hokokai. Pada tahun 1950-an batik yang dihasilkan masih menunjukkan efek batik Hokokai yakni dalam penyeleksian motif, tetapi isen-isen-nya tidak serapat batik Hokokai.

Artisan batik yang kembali mengangkat kembali motif Hokokai yaitu Iwan Tirta. Pada tahun 1980-an Iwan menginterpretasi ulang motif batik Jawa Hokokai dalam bentuk rancangan yang gres. Ia memperbesar motif bunga ibarat krisan dan mawar serta menambahkan serbuk emas 22 karat sebagai cara untuk mempermewah performa batik tersebut. Untuk pergelarannya pada selesai tahun ini, Iwan juga menciptakan motif kupu-kupu dalam ukuran besar.

Batik memang bukan asli seni menciptakan ragam hias khas Indonesia, tetapi sejarah dan perkembangan batik memberikan bahwa batik Indonesia masih yang terbaik.
LihatTutupKomentar