Mengenal Batik Madiun

Kabupaten Madiun terletak di wilayah Provinsi Jawa Timur, kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Nganjuk di timur, Kabupaten Ponorogo di selatan, serta Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ngawi di barat. Kabupaten Madiun dilintasi jalur utama Surabaya-Yogyakarta, dan kabupaten ini juga dilintasi jalur kereta api lintas selatan Pulau Jawa. Bagian utara tempat Madiun berupa perbukitan, merupakan serpihan dari rangkaian Pegunungan Kendeng. Bagian tengah merupakan dataran tinggi dan bergelombang. Sedang bagian tenggara berbentukpegunungan, penggalan dari kompleks Gunung Wilis dan Gunung Liman.

Potensi alam yang menawan banyak memberi ide para pengrajin batik untuk membuat motif batik khas Madiun. Tak banyak yang tau jika Madiun menyimpan kain tradisional yang khas merupakan batik Madiun. Batik Madiun bekerjsama sudah ada semenjak jaman Mataram, alasannya adalah terdapat sebagian wilayah Madiun yang dulunya menjadi kekuasaan kerajaan Mataram. Setelah sempat beberapa tahun punah, tetapi pada periode penjajahan Belanda, Batik Madiun mulai bangun kembali walau cuma beberapa tahun saja. Batik Madiun sempat mengalami kejayaan pada tahun 1960-an hingga 1980-an.

Batik Madiun sering disebut Batik Kenongo. Sedikit orang yang mengenal batik khas kabupaten Madiun yang bernama Batik Kenongo. Kondisi ini memang diakui oleh pihak Pemkab Madiun. Batik Kenongo dinyatakan hampir punah, dikarenakan cuma tersisa seorang perajin yang masih bergerak untuk membatik. Motif andalan dari Batik Kenongo yakni bunga kenanga yang mempunyai makna wangi atau harum.

Batik Madiun memiliki motif batik yang bertentangan dengan motif dari wilayah lain. Motifnya berupa motif batik keris yang terinspirasi dari kisah sejarah Madiun dan mempunyai kaitan budaya berupa kisah sejarah Madiun yakni warisan keris pusaka yang diterapkan pada ragam hias utama berupa keris. Terdapat pula motif batik porang terinspirasi dari tumbuhan di Madiun yang berhubungan dengan kebudayaan mata pencaharian Madiun yaitu berkebun dan dipraktekkan pada ragam hias utama berupa tumbuhan porang. Motif porang ini terinspirasi dari tanaman porang yang banyak tumbuh di Desa Kenongorejo yang terdapat di tepi hutan. Warna pada batik Madiun tidak terikat, batik Madiun condong termasuk dalam batik pesisiran.

Motif khas yang lain yaitu batik motif Retno Kumolo yang motifnya terispirasi dari tokoh wanita zaman Kerajaan Mataram, Retno Dumilah. Retno Dumilah ialah tokoh seorang putri sekaligus ksatria yang berjuang menjaga daerah Purbaya atau Kadipaten Madiun dari serangan Kerajaan Mataram pada zaman pemerintahan Kerajaan Pajang. Ciri khas batiknya ada pada gambar keris dan warna. Keris itu yakni senjatanya hero Retno Dumilah yang lalu dijadikan lambang kota Madiun. Sedangkan untuk warna condong mendekati biru benhur. Konon katanya, Madiun ini erat hutan sehingga menjinjing kesegaran. Warna biru melambangkan kesegaran. Ciri khas yang sungguh kental dan penuhpesan ini diyakini bisa menjadi pesona tersendiri.

Motif lainnya berupa motif beras kutah (beras tumpah) yang melambangkan Kabupaten Madiun sebagai lumbung pangan Jawa Timur sebelah barat. Motif serat jati, dan motif ini merupakan motif cerminan kawasan Madiun yang sebagian besar daerahnya merupakan kawasan hutan buatan jati sebanyak 40 persen berbentukhutan jati.

Sentra Batik Madiun bisa anda peroleh di Desa Kenongorejo Kecamatan Pilangkenceng yang terletak 7 km dari kota Caruban, ke arah Utara. Batik di tempat ini mengalami puncaknya pada tahun 1960-an, periode itu produksi batik meraih 6.000 hingga 7.000 lembar setiap bulannya. Kini produksinya merosot drastis, ialah cuma tinggal 100 hingga 300 lembar setiap bulannya. Hal ini karena peminat batik mulai menyusut dan karenanya kalah dengan tren mode kain dan pakaian dari luar negeri. Selain itu terdapat di Jalan Tuntang, Gang I, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun.

Terdapat pula tempat penghasil Batik Madiun yang berlokasi di Sewulan (Madiun Selatan), yang merupakan kawasan dari kerajaan Mataram. Budaya membatik di tempat tersebut dikala ini sudah nyaris punah ditelan oleh modernisasi teknologi dimana harga batik printing dan cap lebih hemat ongkos dan harga batik tulis lebih mahal. Seiring kemajuan jaman saat ini tinggal 5 orang yang berprofesi menjadi pembatik itupun hanya selaku sambilan usai melakukan kegiatan kegiatan berkala rumah tangga dan usia pembatik inipun sudan busuk tanah sedang generasi penerus tak ada yang berhasrat alasannya proses pewarnaan (wedel) atau pencelupan harus dibawa ke Bekonang Sukoharjo Jawa Tengah atau Solo. Dahulu di Ponorogo ada tetapi usahawan wedel tersebut meninggal dan diwariskan ke anaknya malah diboyong ke Yogyakarta, perjuangan wedel tersebut simpel dari tahun 1989 sampai kini proses pewarnaan mesti ke Surakarta. Sebenarnya motif batik tradisional Madiun Selatan sama dengan di Solo maupun Yogyakarta antara lain semen romo, bendo rusak, sidomukti, parang barong, bledag, dan lain sebagainya. Hanya ada satu motif kembang jeruk dengan pewarnaan colet lebih tegas dan merupakan ciri khas Batik Madiun.

Hasil bikinan Batik Madiun tidak hanya dijual di daerah Madiun saja, tetapi juga di sejumlah luar kota di Pulau Jawa. Seperti Jakarta, Bandung, Batu, Malang, dan sejumlah kota di Jawa Tengah.

Sampai ketika ini campur tangan Pemerintah untuk melestarikan Batik Madiun belum optimal. Selain permasalahn modal, hal lain yang menciptakan Batik Madiun susah meningkat yaitu tidak adanya regenerasi. Tidak ada warga sekitar yang ingin mencar ilmu dan menggeluti usaha batik. Pihaknya sering memberikan training batik bagi ibu-ibu PKK ataupun siswa sekolah, tetapi setelah itu tidak ada tindak lanjutnya. Upaya yang dikerjakan Disperindag Kabupaten Madiun ialah mengadakan lomba desain batik yang nantinya diinginkan mampu menumbuhkan kecintaan batik pada generasi muda. Dari semua upaya ini, sungguh diharapkan Batik Madiun mengalami kebangkitan, dan kembali ke kurun 1980-an, di mana masih ada sekitar 20 industri rumah tangga kerajinan batik di Desa Kenongorejo. Bahkan produk batiknya yang bermotif porang, digunakan selaku seragam hari Jumat di Pusdiklat Perum Perhutani Madiun pada tahun 2011- kini. Penetapan motif Batik Madiun juga perlu disegerakan, maksudnya untuk menumbuhkan kembali pusat batik di Kabupaten Madiun yang selama ini terpuruk dan melestarikan budaya bangsa perihal batik. Selain itu untuk mengindari klaim dari pihak lain.

Sumber : fitinline.com
LihatTutupKomentar