Pemerintah Melarang Kain Bermotif Batik Diimpor

Pemerintah melarang impor kain bermotif ibarat batik masuk ke Indonesia dalam rangka menjaga produk batik nasional, kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel di Bandung, Senin.

"Produk kain batik ialah ikon negeri ini, dan kebijakan pemerintah melarang tekstil yang punya rancangan mirip batik, jangan masuk Indonesia untuk jaga produk batik," kata Rachmat Gobel di sela-sela Diskusi Ekonomi Munas XV/2015 Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Bandung.

Ia menyebutkan, kebijakan itu dalam rangka menjaga produk batik Indonesia yang telah menjadi ikon. Pasalnya, kata ia, proses pengerjaan batik dan songket dibuat secara khas hingga di desa-desa.

Menurut beliau, hal itu untuk mengamankan pasar batik produk Indonesia di dalam negeri. Perlindungan terhadap produk dalam negeri dilaksanakan dengan fasilitasi tarif kuantitatif, pengamanan anti dumping dan contra dumping dalam mengamankan pasar dalam negeri.

"Potensi pasar dalam negeri mesti diselamatkan dan diamankan bareng , alasannya adalah outputnya untuk kemakmuran. Kita akan tegas dalam mengamankan pasar dalam negeri," katanya.

Ia mencontohkan sudah membekukan atau membatalkan sekitar 3.000-an izin impor alasannya tidak melaksanakan kewajiban dan prosedur yang benar.

"Mengapa itu dijalankan, sebab pasar dalam negeri mesti dijaga, dan kesepakatan untuk mendorong sektor berpotensi di dalam negeri seperti pertanian dan memanfaatkan produk kita sendiri," katanya.

Langkah realistis yang dilaksanakan dalam mengamankan pasar antara lain penguatan pasar sendiri, stabilitas pasokan pasar, logistik dan perdagangan kawasan.

Selain itu fihaknya juga mengusung pemerataan produk untuk memenuhi Standarisasi Nasional Indonesia (SNI). Hal itu selaku bentuk kualiti kendali produk termasuk rancangan.

"Tapi banyak poduk itu tak masuk pasar. Konsumen Indonesia banyak dirugikan oleh produk sendiri akibat tidak mempunyai SNI dan labelisasi oleh industri, itu mesti dibenahi," katanya.

Dalam mempertahankan pasar dalam negeri, berdasarkan Menteri Perdagangan, juga perlu meningkatkan apresiasi budaya sendiri.

Menurut ia, para pebisnis tergolong para pengusaa muda untuk mengambil kesempatan dan potensi dari kekayaan budaya Indonesia.

"Satu jawabannya harus mampu, membangun industri baik besar maupun kecil dilandasi nasionalisme," kata Menteri Perdagangan menyertakan. Rерublіkа
LihatTutupKomentar