Sejarah Batik Cirebon




batik Cirebon tergolong kedalam golongan batik Pesisiran. Namun juga sebagian batik Cirebon termasuk dalam kelompok batik Keraton. Hal ini sebab di Cirebon memiliki dua buah keraton yakni Keratonan Kasepuhan dan Keraton Kanoman, yang konon berdasarkan sejarah dari dua keraton ini muncul beberapa desain batik Cirebon Klasik seperti motif Mega Mendung, Paksinaga Liman, Patran Keris, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas dan lain-lain.

Beberapa hal penting yang bisa dijadikan keunggulan (ciri khas) batik Cirebon ketimbang produksi batik dari kawasan lain adalah selaku berikut :

  • Batik Cirebonan untuk rancangan-rancangan klasik tradisional umumnya senantiasa mengikut sertakan motif wadasan (kerikil cadas) pada bagian motif tertentu. Disamping itu ada unsur ragam hias berupa awan (mega) pada bagian-bagian yang diubahsuaikan dengan motif utamanya.
  • Batik Cirebonan tradisional/klasik selalu bercirikan dengan latar belakang (dasar kain) berwarna lebih muda daripada warna garis motif terutama.
  • Bagian latar/dasar kain biasanya higienis dari noda hitam atau warna-warna yang tidak diinginkan akhir penggunaan lilin yang pecah sehingga pada proses pewarnaan menimbulkan zat warna yang tidak diharapkan melekat pada kain.
  • Garis-garis motif pada batik Cirebonan menggunakan garis tunggal dan tipis (kecil) kurang lebih 0,5 mm dengan warna garis yang lebih tua dibandingkan dengan warna latarnya. Hal ini dikarenakan secara proses batik Cirebon unggul dalam penutupan (blocking area) dengan menggunakan canting khusus (canting tembok dan bleber).
  • Warna-warna batik Cirebonan klasik biasanya mayoritas warna kuning, hitam (sogan gosok) dan warna dasar krem, sebagian lagi berwarna merah bau tanah, biru, hitam dengan dasar warna kain krem atau putih gading.
Kelima ciri tersebut ialah hal teknis kelebihan dari batik Cirebonan klasik/tradisional.
Lain halnya dengan golongan batik Cirebonan yang tergolong kelompok batik Pesisiran. Karakter batik Cirebonan Pesisiran dipengaruhi oleh sebagaimana abjad penduduk penduduk pesisiran yang kebanyakan memiliki jiwa terbuka dan gampang menerima efek aneh. Daerah sekitar pelabuhan lazimnya banyak orang ajaib singgah, berlabuh hingga terjadi perkawinan lain etnis (asimilasi) maka batik Cirebonan Pesisiran lebih condong menerima pengaruh dari luar.

Batik Cirebon lebih condong memenuhi atau mengikuti selera pelanggan dari berbagai tempat (lebih terhadap pemenuhan komoditas jual beli dan komersialitas), sehingga warna-warna batik Cirebonan Pesisiran lebih atraktif dengan menggunakan banyak warna.

Produksi batik Cirebonan pada era kini terdiri dari batik Tulis, batik Cap dan batik kombinasi tulis cap. Pada tahun 19902000 ada sebagian masyarakat pengrajin batik Cirebonan yang memproduksi kain bermotif batik Cirebon dengan teknik sablon tangan (hand printing), tetapi belakangan ini teknik sablon tangan hampir punah, dikarenakan kalah segalanya oleh teknik sablon mesin yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang lebih besar.

Daerah penghasil produksi dan pengrajin batik Cirebonan terdapat di 5 wilayah desa yang berlainan, tepatnya tempat-daerah yang ada di sekitar desa Trusmi (sentra batik Cirebonan). Desa-desa yang berada di sekeliling desa Trusmi diantaranya desa Gamel, Kaliwulu, Wotgali, Kalitengah dan Panembahan. Pertumbuhan batik Trusmi nampak bergerak dengan segera mulai tahun 2000, hal ini bisa dilihat dari banyaknya bermunculan showroom-showroom batik yang berada di sekeliling jalan utama desa Trusmi dan Panembahan. Pemilik showroom batik Trusmi hampir semuanya dimiliki oleh penduduk Trusmi orisinil walaupun ada satu atau dua saja yang dimiliki oleh pemilik modal dari luar Trusmi. Sumber http://modelbajubatikk.blogspot.com/
LihatTutupKomentar