Sejarah Batik Danar Hadi

Santosa Doellah merupakan anak ke 5 dari 10 bersaudara. Ayahnya yakni seorang dokter anak. Kakek buyutnya, H. Bakri, yakni seorang usahawan batik dan juga salah seorang tokoh Serikat Dagang Islam.


Ia sudah mengenal batik semenjak umur 15 tahun dari kakeknya, R. H. Wongsodinomo, yang merupakan pendiri Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Tak heran kalau semenjak kecil ia telah terbiasa membuat desain batik, mengenal bermacam motif, memakai canting (alat untuk menggoreskan malam ke kain), pewarnaan dan nglorot (menetralisir malam pada kain).

Ketika menjadi mahasiswa fakultas ekonomi UNPAD di Bandung, ia mulai berjualan batik yang ia bawa dari Solo. Ketika skripsi, bisnis batiknya mulai meningkat sehingga dia menentukan berhenti kuliah. Setelah menikah, pada tahun 1967 ia mendirikan Danar Hadi di Solo. Danar Hadi yaitu gabungan dari nama depan istrinya, Danar, dan nama keluarga besar istrinya, Hadi. Dengan kado pernikahan dari kakek-neneknya berbentuk29 pak kain mori dan 174 lembar kain batik beserta 20 orang karyawan, bikinan pertama Danar Hadi yaitu batik tulis Wonogiren yang ialah adaptasi dari motif batik klasik keraton Solo. Dari hasil penjualan Batik Wonogiren, dia membuka perkampungan batik di daerah Singosaren tahun 1968. Tahun 1970 ia mendirikan perkampungan serupa di Masaran, Sragen. Tahun 1975 (atau 1973) ia mendirikan pusat usaha batik di Pekalongan dan Cirebon.

Pada permulaan tahun 1980 batik Danar Hadi mulai diekspor ke beberapa negara mirip Amerika Serikat, Italia dan Jepang. Tahun 1981 Santosa mendirikan perusahaan tenun dan finishing PT. Kusuma Hadi Santosa. Tahun 1990 dia mendirikan perusahaan pemintalan benang katun PT. Kusuma Putra Santosa. Tahun 1991 beliau mendirikan usaha garmen PT. Kusuma Putri Santosa dan usaha mebel Jawi Antik.

Meski pada tahun 1973 ia pernah gagal membeli Ndalem Wuryaningratan (bekas istana ningrat di Jalan Slamet Riyadi, Solo), pada tahun 1997 dia berhasil membelinya seharga 27 milyar Rupiah. Setelah pemugaran akhir tahun 1999, istana seluas 1,5 hektar itu beliau buka sebagai Museum Batik Danar Hadi. Setelah dilengkapi Soga Resto & Cafe, museum lalu dinamakan House of Danar Hadi dan menjadi salah satu tujuan rekreasi di Solo.

Museum ini menyimpan koleksi batik antik yang memiliki nilai sejarah yang tinggi mirip Batik Keraton yang berusia di atas 200 tahun, Batik Belanda, Batik Cina, Batik Hokokai, Batik Indonesia karya Go Tik Swan, dan Batik Saudagaran. Di museum ini juga terdapat seperangkat kain dodot yang dikenakan Raja Surakarta Paku Buwono X saat menikahi Kanjeng Ratu Emas pada tahun 1893. Ada lebih dari 10.000 lembar kain batik kuno di museum ini.

Batik-batik antik dikumpulkan sejak Santosa masih cukup umur. Ketika usaha batiknya mulai meningkat , kegemaran berburu kain batik langka semakin menjadi. Ia rela tiba ke pengumpul maupun pemilik pertama untuk mendapatkan batik yang diperlukan. Santosa bahkan harus melayang ke Belanda untuk bisa mengoleksi selembar kain batik bikinan tahun 1830. Alhasil, seluruh kain batik koleksi museum ini termasuk langka, berkualitas, dan tidak dibentuk secara biasa lagi.

Kini Danar Hadi memiliki lebih dari seribu karyawan di seluruh tanah air dan menjadi salah satu merek batik paling terkenal di Indonesia selain Batik Semar dan Batik Keris.

Sumber : kaskus
LihatTutupKomentar