Sejarah Dan Makna Filosofis Motif Batik Kawung

Motif batik kawung memiliki sejarah panjang dalam proses lahirnya sampai perkembangannya hingga hari ini. Selain itu, motif batik kawung juga terkandung makna filosofis yang sarat akan nilai-nilai dan norma dalam kehidupan.

Tips Membuat Warna Abu-abu untuk Motif Batik Kawung

Mengenal Lebih Dekat Motif Batik Kawung

Menurut pengertiannya makna motif batik kawung merupakan sebuah keinginan biar seluruh manusia selalu ingat dan memahami dari mana mereka berasal. Dengan begini, mereka mampu menekan kesombongan alasannya adalah lupa diri atas jabatan atau harta.

Tak heran jika sudah sejak dahulu orang yang mengenakannya akan tampak lebih berwibawa, bisa menahan serta menunjukkan benteng terhadap dirinya sendiri. Sehingga, membuat keselarasan dalam norma, perilaku, serta korelasi antar insan.

Memang, hawa nafsu yakni musuh terbesar manusia. Dapat menghancurkannya dalam sekejap, menyebabkan pertumpahan darah. Bahkan, merusak tatanan persaudaraan kekeluargaan. Oleh karena itu, selaku pengingat Motif Batik tersebut dibuat.

Sejarah Lahirnya Motif Batik Kawung

Muncul banyak sekali macam pertanyaan darimana bahwasanya asal dari Batik Kawung ini? Memang masih simpang siur soal klarifikasi penemu. Satu segi ada yang mengatakan diciptakan oleh Sultan Mataram pada periode 13.

Sisi lain dibentuk oleh seorang ibu dari pemuda desa populer sungguh bijak, santun, dan menjunjung tinggi keserasian antar tetangga. Akhirnya, Raja Mataram memanggilnya, ketika itu ibunya membuat motif Batik ini.

Dengan rasa bangga dan bahagia, Ibu tersebut menjadikannya dengan harapan biar anaknya tetap bersahaja, tidak pernah berganti atau jadi angkuh. Pihak kerajaan memberikannya sejumlah tanggung jawab, dan seluruhnya akhir.

Raja sangat takjub hingga memberikannya gelar Adipati Wonobodro, pada saat peresmian perjaka itu masih mengenakan Batik bikinan dari ibunya. Sejak ketika itu, hanya lingkungan keraton Mataram saja yang berani mengenakannya.

Filosofi yang Terkandung Di Balik Motif Batik Kawung

Perkembangan dari Batik Kawung sungguh pesat, banyak pengrajin batik mulai mengkombinasikan warna dengan acuan gres. Tetapi, tidak menghilangkan komponen utamanya. Untuk contoh warna tidak jauh berbeda.

Satu corak dengan yang lain ada putih, merah soga, hitam hingga putih sedikit kuning. Perbedaannya tampakpada pola yang dibentuk seperti, Kawung Sari bentuknya bulatan tampak lonjong disebut juga kawung Kopi.

Ada di setiap sudut acuan batik bentuknya seperti dua garis terbelah, mirip mirip biji kopi lalu, Kawung Kembang. Seperti namanya, mempunyai ciri utama yakni ada lonjong sedikit bundar.

jikalau dilihat lagi hampir seperti seperti gambar sebuah bunga, Memiliki banyak ornamen utama disebut sebagai isen motif, bentuknya hampir seperti garis terdapat di setiap bulatan kawung.

Diletakkan pada ujungnya sementara, untuk Isen motifnya sendiri dibuat formasi titik melingkar bentuknya bundar kecil kemudian, diluar juga terdapat acuan sama.

Bila dilihat Berdasarkan acuan kombinasi yang dipraktekkan. Ada beberapa opsi salah satunya adalah Buntal, mempunyai makna serta Filosofis, sangat dekat dengan akhlak orang Jawa zaman dahulu.

Melihat Corak Batik Kawung Buntal

Bila dilihat bentuknya, jenis ini merupakan perpaduan dari kawung jenis pecis selanjutnya, dipadu padankan dengan bunga kenikir. Nama Buntal sediri memang erat dengan filosofi Jawa. Di mana bunganya selalu digunakan.

Berbagai macam upacara adat terutama soal Tolak Bala atau menurut pengertiannya yakni menghindarikan diri dari semua yang sifatnya buruk atau menyebabkan malapetaka. Seperti, tragedi, kasus pencurian serta masih banyak lagi.

Mempunyai isen corak bentuknya bundar sedikit lonjong. Pada ornamen utamanya terlihat pembagian menjadi dua. Mempunyai warna putih serta putih kekuningan. Terlihat juga corak merah soga sebagai latarnya.

Kemudian, terlihat juga hitam lazimnya untuk acuan kontur atau sebagai latar. Bagi Anda yang ingin membelinya, cobalah berkunjung ke Keraton Surakarta. Di mana, mereka masih menjual serta mengenakannya, selaku identitas.

Baca juga: Sejarah Panjang Makna Filosofis Motif Batik Parang

Mengenal Motif Kawung Keraton Surakarta

Runtuhnya Mataram dengan dibagi menjadi dua menciptakan Keraton Surakarta terus melestarikan budayanya. Bahkan, sampai sekarang mampu terlihat di salah satu sudut Stadion Manahan Solo, terlihat motif Kawung untuk kursi penonton.

Pelestarian ini terus menempel karena, pihak keraton sendiri masih menggunakannya sampai kini. Setelah terpecah menjadi tiga bab, Di mana Karaton Surakarta dipimpin oleh Pakubuwono, pelestarian dari penggunaan Batik tetap dilanjutkan.

Hanya saja khusus untuk punakawan saja. Dalam tatanan keraton tersebut, Punakawan ini diumpamakan sebagai penasehat Raja. Mereka bertugas untuk memperlihatkan instruksi serta pendapat jika terjadi suatu masalah.

Dalam perkembangannya Karaton ini memiliki bangunan bersejarah serta aneka macam benda usang yang masih mampu Anda lihat jika berkunjung kesana. Salah satu ikon yang tidak akan terlupakan yaitu hadirnya Kebo Bule.

Namanya ialah Kyai Slamet berwarna putih, setiap malam satu suro akan diarak sekaligus, menyucikan berbagai benda pusaka. Menurut sejarahnya, kebo ini merupakan dukungan dari Bupati Ponorogo.

Saat Anda tiba mengunjungi museumnya, ada suatu sumur peninggalan dari Pakubuwono IX. Konon, banyak orang percaya mampu mendatangkan keberkahan bagi, siapa saja yang meminumnya, hingga sekarang masih terus mengalir.

Biasanya disekitar sumur digunakan selaku daerah untuk bersemedi. Mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Sebagai upaya mendapatkan petunjuk atas segala permasalahan. Baik dalam atau luar keraton pada waktu itu.

Koleksi lain yang dimiliki oleh Karaton ialah Batik. Saat ini jenis motif batik kawung yang mampu Anda lihat pada blangkon, dikenakan oleh beberapa abdi dalem. Serta, dikenakan selaku baju resmi kunjungan anak keturunan Raja.

Kain Batik Kawung merupakan budaya bangsa yang mesti dilestarikan, jangan hingga jatuh ke negara lain atau mendapatkan pengakuan dari mereka. Bentuknya memang sederhana namun, mempunyai banyak makna serta filosofi didalamnya.

LihatTutupKomentar