Seputar Proses Pembuatan Batik

Proses pembuatan batik memanglah sungguh rumit, namun hal ini yang menciptakan unik dari suatu batik. Selain motifnya yang bervariatif, proses pembuatannyapun cukup rumit dan unik. Konon hanya di Indonesia proses pembuatan batik yang sangat rumit.


Selama ini kita mengenal batik cuma dari melihat motifnya saja. Kalau ada busana dengan motif dan warna tertentu kita umumnya pribadi bisa ‘men-vonis’ bahwa itu batik atau bukan. Namun jarang diantara kita yang mampu membedakan apakah ‘batik’ itu yakni batik original atau batik sablon/batik cetakan.

Sebuah pakaian dibilang batik bila pada proses pembuatan motifnya menggunakan malam (lilin). Apakah prosesnya dengan menorehkan canting atau menggunakan tembaga selaku cap asalkan menggunakan malam (lilin) maka karya itu yaitu batik original.

Sedangkan рrоѕеѕ реmbuаtаn bаtіk yang non malam (non lilin), maka ‘batik’ itu ialah non original alias bukan batik. Hanya motifnya saja yang menjiplak motif batik.

Untuk lebih mengenal batik original ada baiknya kita mengenali bagaimana proses pembuatan batik hingga suatu karya batik tercipta. Dengan mengetahui kita bisa membayangkan bagaimana rumitnya batik yang kita kenakan dihasilkan. Dan kita bisa menghargai dan memaklumi kalau harga yang mesti kita keluarkan setara dengan panjangnya proses pembuatannya.

Proses pembuatan batik demikian unik sekaligus rumit. Setidaknya ada 12 tahap. Tahap pertama nyungging, yakni membuat contoh/motif pada kertas. Tahap kedua njaplak: memindahkan teladan dari kertas ke kain. Tahap ketiga nglowong, yaitu pelekatan malam dengan canting sesuai dengan teladan.

Tahap keempat ngiseni, yakni santunan motif isen pada teladan utama. Tahap kelimanyolet, yakni memberi bagian tertentu dengan warna. Tahap keenam mopol, atau menutupi belahan yang dicolet dengan malam. Tahap ketujuh ngelir: Pewarnaan secara menyeluruh. Tahap kedelapan nglorod, ialah penghilangan malam dengan merendamnya di air mendidih. Tahap kesembilan ngrentesi: Pemberian cecek (titik) pada klowongan. Tahap ke-10 nyumti, yakni menutupi cuilan tertentu dengan malam. Tahap ke-11 nyoga, atau pencelupan kain dengan warna sogan. Tahap ke-12 nglorod, penghilangan malam dengan merendamnya di air mendidih.

Makara masihkah kita berfikir bahwa proses pengolahan batik original itu sederhana?
LihatTutupKomentar