Uniknya Sepeda Ontel Batik

Beragam motif batik asal Jawa Barat tampakunik dan antik menyelimuti sekitar 50 persen dari tubuh sepeda ontel. Bahkan sepeda ontel yang dikenal sebagai sepeda tempo dulu itu terlihat makin kuno dan menambah keeratannya pada bagian tradisi.

Sepeda yang diberi lukisan batik itu ada sebanyak 8 unit dari 13 sepeda ontel yang dipamerkan Hyatt Regency Bandung dalam rangka memperbesar semarak ‘Priangan Festival’ yang menjadi tema menyambut tahun gres 2012 di hotel tersebut.

Pameran sepeda onthel yang digelar di Ballroom hotel dengan tajuk Bandung Majang Mejeng “Art Exhibition ‘Harmony’ (Batik dan Onthel) itu digelar semenjak 29 Desember 2011 hingga 1 Januari 2012. Sekilas motif-motif batik pakem Cirebonan, Garutan, dan Tasikan memberi daya tarik tersendiri pada sepeda antik yang dipamerkan. Mulai dari motif ‘kumeli’, ‘lereng’, dan ‘mega mendung‘ menyatu pada tubuh sepeda yang terbuat dari logam.

Sementara sepeda ontel yang dipamerkan ialah sepeda produksi tahun 1947 sampai 1960 dengan brand antara lain Phidias, Bianci, Rongers, Phillips, dan Religh.

“Keinginan untuk membantik pada sepeda itu bahu-membahu sudah usang. Tapi gres kesampaian sejak sebulan kemudian, karena kebetulan akan ada acara menyambut tahun gres dengan tema Priangan Festival di Hotel Hyatt Regency,” tutur Doddi Iryana Memed Ketua

Komunitas Sepeda Ontel Jadoel yang bersekretariat di Jalan Banjarsari Raya No 4, Antapani Bandung ketika ditemui Tribun di lokasi ekspo, Sabtu (31/12/2011).

Dengan festival sepeda ontel yang dicat batik itu dibutuhkan Doddi, mampu menjadi daya tarik pelancong untuk tiba ke Bandung. Selain itu untuk lebih mengenal sepeda ontel serta batik terhadap wisatawan yang datang ke Bandung, terutama bagi yang bertahunbaruan di Hyatt Regency Bandung.

“Kebetulan komunitas kami diajak koordinasi dengan hotel dan saya sendiri sudah menyukai sepeda onthel semenjak tahun 1977,” ujarnya.

Sedangkan proses pengecetan batik pada ke-8. sepeda ontel itu dilaksanakan oleh Dodo Abdullah seorang pelukis kelahiran Garut yang sempat mencar ilmu melukis terhadap Jeihan Sukmantoro di Studio Seni Rupa Bandung. Dikatakan Dodo, pengerjaannya dimulai sejak sebulan kemudian. Untuk satu sepeda diharapkan waktu pengecatan sekitar 3 hari.

“Bahannya memakai cat duko diaduk cat lukis. Dan proses pengecatnnya dilaksanakan dengan dua cara yakni dengan  airbrush dan dibantu dengan kuas untuk melukis bentuk-bentuk yang kecil dan menjangkau ruang yang sempit,” tutur Dodo

Motif-motif batik yang dilukiskan pada sepeda, diakui Dodo semuanya menurut pada pakem-pakem motif batik yang ada di Jawa Barat, seperti Cirebon, Garut, Tasikmalaya. Namun dalam prosesnya banyak diberikan pengembangan sehingga tampaklebih variatif.

“Pakemnya sesuai motif yang ada di Jawa Barat, tetapi aku kembangkan lagi sehingga menghasilkan motif yang tidak terikat,” ujar Dodo.

Sementara Widagdo Triyogie Sanyoto, PR Manager Hyatt Regency Bandung mengaku pihak hotel sangat menyambut baik digelarnya ekspo sepeda ontel bermotif batik. Karena pekan raya itu sesuai dengan desain program menyambut tahun gres di hotelnya.

Bahkan selain adanya pekan raya, Hyatt Regency juga membuat setting ballroom yang khas dengan nuansa tatar priangan. Karena di

sana akan digunakan selaku tempat makan malam pada malam tahun gres bagi tamu hotelnya.

“Tanpa disangka tema mengankat buday setempat ini banyak menerima sambutan dari tamu yang berasal dari Kota Bandung dan luar kota termasuk kelompok ekspatriat. Terbukti tamu yang ingin makan malam dan bermalamtahunbaruan di sini meningkat. Tahun kemudian kami cuma melaya

ni tamu 300 orang, namun kini menjangkau 350 orang. Padahal tahun lalu kami ambil tema Karnival, kemudian tahun sebelumunya Wonderland,” ucap Triyogie yang ditemui di lokasi pekan raya. Tribun
LihatTutupKomentar